10 Kata Mutiara R.A Kartini Yang Tak Lekang Oleh Waktu

  • Whatsapp
10 Kata Mutiara R.A Kartini Yang Tak Lekang Oleh Waktu

Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Kabupaten Jepara. Lahir dari keluarga bangsawan Jawa, ayah Kartini Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang patih yang diangkat menjadi Bupati Jepara setelah Kartini lahir.

Kartini sendiri merupakan anak sulung tetapi bukan dari istri utama karena ibunya M.A. Ngasirah bukanlah seorang bangsawan. Kebijakan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bangsawan juga beristri bangsawan. Maka dari itu ayah Kartini kemudian menikah lagi dengan Raden Adjeng Moerjan yang merupakan keturunan langsung dari raja Madura.

Kartini tumbuh menjadi perempuan berani yang menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya hingga sekarang. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tercurahkan dalam surat-suratnya terdahulu telah dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Melalui surat-suratnya itu, orang akhirnya mengetahui cita-cita besar Kartini ingin membawa perubahan bagi kehidupan perempuan Indonesia dengan menyuarakan kesetaraan gender. Pemikirannya kemudian kita kenal sekarang dengan istilah emansipasi perempuan.

Besarnya pengaruh Kartini membuat ia memiliki tempat khusus di hati bangsa Indonesia. Hari kelahirannya pun rutin diperingati setiap tahun. Kata-kata yang pernah terucap dan ditulis oleh Kartini pun seolah tak pernah lekang oleh zaman dan masih menjadi inspirasi untuk generasi muda saat ini. Berikut ini 10 kata-kata Mutiara yang telah dirangkum merdeka.com melalui berbagai sumber:

1. “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya”.

Berangkat dari kehidupannya sebagai putri seorang bangsawan dengan beragam aturan yang kaku membawa Kartini pada keinginan-keinginannya untuk bebas. Keinginannya meningkatkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan ia wujudkan dengan mendirikan sekolah khusus perempuan pada tahun 1903.

Menurutnya seorang gadis atau perempuan harus memiliki pikiran-pikiran yang cerdas, cara pandang yang luas, sehingga ia dapat melawan kehidupan kolot yang terlalu diagungkan oleh nenek moyang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *