Ada Banyak Kejutan di Film Ip Man 4

  • Whatsapp

Ada Banyak Kejutan di FilmIp Man 4  – Cerita diskriminasi generasi Tiongkok di Amerika Serikat( AS) kembali muncul. Cerita itu dinaikan melalui frachise film” Ip Man” dalam” Ip Man 4: The Finale”. Semacam tergambar dalam judulnya, film yang disutradari oleh Wilson Yip itu menggambarkan soal ujung perjuangan Ip Man dalam melawan diskriminasi.

Dalam film itu, ditafsirkan kalau Ip Man yang tinggal di Hongkong itu belum betul- betul mengenali soal pilunya diskriminasi yang terjdi di kawasan Pecinan AS. Tokoh yang diperankan oleh Donnie Yen itu cuma mengenali kalau AS ialah negeri yang pas untuk anaknya buat pindah sekolah. Mengingat, anak semata wayangnya itu wajib dikeluarkan dari sekolah sebab sering berkelahi.

Ada Banyak Kejutan di FilmIp Man 4

Ip Man lumayan tertekan. Bagaikan single parent, dia bernazar buat membagikan pembelajaran terbaik buat anaknya. Tetapi, tidak hanya wajib menerima realitas kalau anaknya wajib dikeluarkan dari sekolah, dia juga terus menjadi tertekan sehabis dia didiagnosa menderita kanker.

Dia masih shock atas seluruh realitas itu. Dia tidak menceritakan soal keadaan kesehatanya. Laki- laki yang pula diketahui dengan nama Yip Man itu juga bergegas ke AS buat mencari pesan saran yang diperlukan buat proses perpindahan sekolah.

Pesan sakti yang diakui cumalah pesan yang diterbitkan oleh Chinese Consolidated Benevolent Association( CCBA). Tetapi, CCBA menolak menghasilkan pesan saran sebab Ip Man keberatan buat menolong menuntaskan perkara yang tengah terjalin di San Fransisco.

Dalam pertemuan awal antara CCBA serta Ip Man, dia diinformasikan kalau muridnya yang bernama Bruce Lee sudah melanggar peraturan CCBA yang menyebut kalau wing chun kung fu cuma boleh dianjurkan kepada masyarakat generasi Tiongkok. Ip Man memperhitungkan, Bruce Lee sepatutnya senantiasa diperbolehkan buat mengajakan metode bela diri itu kepada siapa juga.

Prinsip Ip Man seperti itu yang membuat misi utama menemukan pesan saran wajib terganjal. Pimpinan CCBA, Wan Zong Hua( Wu Yue) memperhitungkan, Ip Man tidak mengenali betul gimana kejamnya diskriminasi yang terjalin sebab dia tidak sempat tinggal di AS. Tetapi Ip Man senantiasa keras kepala.

Secara tidak terencana, sekolah yang diincar oleh Ip Man merupakan tempat dimana anak wanita dari Wan Zong Hua mengenyam pembelajaran. Dikala berkunjung ke sekolah tersebut, Ip Man memandang anak Wan Zong Hua

yang bernama Yonah( Vanda Margraf) tengah hadapi perundungan. Walaupun pernah terluka lumayan parah, perundungan terhadap Yonah bisa dihentikan oleh Ip Man melalui beberapa jurus kung fu ringan.

Tetapi, perkara yang lebih sungguh- sungguh malah terpantik. Sebab, Becky( Grace Englert), otak dari perundungan itu merupakan seseorang anak dari petugas imigrasi. Becky mengadu serta merekayasa seolah dialah yang jadi korban perundungan. Orang tuanya juga makin geram dikala mengenali kalau pelakunya merupakan orang generasi Tiongkok. Bapak Becky juga menyusun rencana supaya masyarakat Tiongkok di AS bisa dideportasi.

Tidak cuma itu, perkara pelik juga terjalin di dalam militer AS. Sebab, terdapat seseorang generasi Tiongkok di dalam marinir AS yang mau supaya kung fu pula jadi kurikulum pembelajaran para prajurit. Tetapi, kemauan itu menemukan perlawanan yang tidak kalah alot.

Perlawanan sangat alot salah satunya diberikan oleh instruktur karate dalam marinir. Sebab lagi terletak di AS, Ip Man yang mempunyai beban benak soal pembelajaran anak serta penyakit kanker itu terpaksa wajib ikut serta langsung dalam tiap konflik yang terjalin. Segala intrik itu juga buatnya mengenali diskriminasi yang sepanjang ini cuma dia dengar melalui cerita.

Bagaikan suatu film biographical martial arts, cerita yang disajikan sepanjang dekat 100 menit itu tidak cuma kaya hendak aksi ketangkasan kung fu. Sebab, sajian aksi yang terdapat pula dihiasi dengan beberapa dramatisasi yang mendalam.

Rentang emosi yang dialami oleh pemirsa juga bermacam- macam. Mulai dari ketagangan dalam masing- masing pertandingan kung fu sampai cerita haru kasih sayang orang tua terhadap anaknya.

Belum lagi, alur ceritanya disajikan dengan apik serta membuat plot twist yang didatangkan sanggup terkemas dengan menarik. Otomatis, film yang rencananya mulai disiarkan di layar lebar Indonesia pada 31 Desember 2019 itu juga jauh dari kesan membosankan sebab kecakapan Wilson Yip dalam menata ritme cerita.

Beberapa kejutan serta ketangkasan yang didatangkan juga membuat beberapa pemirsa dalam special screening sebagian kali bertepuk tangan secara otomatis. Terlebih, film dengan latar dekat tahun 60- an yang didominasi oleh ekspresi wajah datar dari Ip Man itu berakhir dengan cerita mengharukan baik soal kehidupan individu Ip Man ataupun soal nasib generasi Tiongkok di AS.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *